Inilah 5 Kelebihan Museum Atsiri, Wahana Edukasi Atsiri Pertama di Indonesia

Inilah 5 Kelebihan Museum Atsiri, Wahana Edukasi Atsiri Pertama di Indonesia

Museum Atsiri (Dok.Pri)

Sebuah bangunan megah berwarna putih seluas 2 hektar ini gagah berdiri di lereng Lawu, Tawangmangu serta bercurah hujan 1.800 – 2.500 mm/th. Melanjutkan cita-cita Soekarno menjadi Mercusuar Dunia di bidang Minyak Atsiri untuk menyejahterakan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia, visi didirikannya bangunan ini. Tiada terlihat, selain sisa-sisa produksi puluhan tahun lalu yang meninggalkan berbagai kisah haru. Sumur-sumur produksi, area bekas penyulingan ataupun laboratorium kuno menjadi saksi betapa besar hiruk-pikuk produksi pabrik ini di masa lalu. Bisik-bisik masyarakat mulai terdengar tentang revitalisasi museum ini. Benarkah bangunan yang mati suri ini akan dibangkitkan kembali sebagai hadiah untuk Indonesia?

Museum Atsiri? Yang ada di awang-awang sih pada awalnya seperti sebuah museum yang penuh dengan peninggalan-peninggalan kuno. Bermodal semangat untuk menelusuri tempat-tempat baru, beberapa waktu lalu saya bersama rombongan Kjog (Kompasianer Jogja) mencoba meluangkan waktu untuk mengobati rasa penasaran tentang sebuah museum yang bagi kami masih terasa sangat asing ini.

Kereta Api pagi itu tampak membawa kami bertamasya dengan sangat nyaman, ditambah cakrawala biru yang menambah hati kami makin cerah. Sesampainya di stasiun Solo, kami sejenak mampir ke rumah rempah Solo, sebuah bangunan artistik yang memiliki banyak pajangan karya seni dari bahan kayu, akar dan sumber alam lainnya. Tak lama setelahnya, kami melanjutkan perjalanan menuju Museum Atsiri atau yang populer dengan sebutan Rumah Atsiri.

Sampailah kami di sebuah rumah singgah, tempat kami bertemu dengan Ibu Julia Ekajati (Pemilik Museum Atsiri) bersama tim yang sejak awal terlihat sangat ramah menyambut kedatangan kami. Ada banyak cerita sejarah yang saya dapatkan hingga memahami betapa berharganya museum ini bagi Indonesia. Sambil manggut-manggut kagum, Kjog mulai menanggapi bahkan beberapa lempar pertanyaan untuk menjawab rasa penasaran mereka.

Hari makin siang dan perut mulai bergejolak. Sebelum jalan-jalan ke Museum Atsiri, Bu Julia menjamu kami untuk menikmati hidangan ndeso di resto miliknya, Griya Tawang, tentunya di area yang tak jauh dari Museum Atsiri. Sebuah restoran bernuansa alam yang dipercantik dengan gazebo-gazebo unik, berbagai sajian ala ndeso yang rasanya alamakkk... bikin kangen suasana pedesaan. Aroma udara yang masih segar sangat mendukung kami untuk menikmati sajian istimewa ini di tepi sungai alami yang gemercik airnya mendatangkan rasa tenang. Saya hanya bisa berkata, sempurna.

Sebuah bangunan megah berwarna putih seluas 2 hektar ini gagah berdiri di lereng Lawu, Tawangmangu serta bercurah hujan 1.800 – 2.500 mm/th. Melanjutkan cita-cita Soekarno menjadi Mercusuar Dunia di bidang Minyak Atsiri untuk menyejahterakan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia, visi didirikannya bangunan ini. Tiada terlihat, selain sisa-sisa produksi puluhan tahun lalu yang meninggalkan berbagai kisah haru. Sumur-sumur produksi, area bekas penyulingan ataupun laboratorium kuno menjadi saksi betapa besar hiruk-pikuk produksi pabrik ini di masa lalu. Bisik-bisik masyarakat mulai terdengar tentang revitalisasi museum ini. Benarkah bangunan yang mati suri ini akan dibangkitkan kembali sebagai hadiah untuk Indonesia?

 

Area Pengembangan Taman Atsiri (Doc. Rumah Atsiri)

Area Pengembangan Taman Atsiri (Doc. Rumah Atsiri)

Usai menikmati makan siang, kami kembali ke rumah singgah hingga akhirnya bersiap untuk berpetualang ke Museum Atsiri. Saat menyusuri pertama kali, kami melihat banyak material dan beragam alat bangunan yang masih berserakan, tanda bahwa proses renovasi masih berjalan.

Jejak-jejak langkah kami menyusuri beberapa area yang pernah menjadi saksi dari status bangunan ini yang telah pindah tangan beberapa kali. Ditemani oleh para guide ramah tim Rumah Atsiri, yaitu Mbak Sri Rejeki, Bapak Markhaban dan Bapak Maryanto, kami mendapatkan  berbagai informasi menarik.

Pada akhirnya, saya paham betapa Museum Atsiri ini ibarat harta karun yang jika dikembangkan secara serius akan dapat memberikan kebanggaan luar biasa bagi Indonesia. Mengapa begitu? Karena proses revitalisasi ini butuh kerja keras banyak pihak untuk membentuk sebuah wahana edukasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Apa saja sih kelebihan Museum Atsiri? Berikut beberapa hal yang dapat saya rangkum :

1. Wahana Sejarah yang Berkontribusi bagi Indonesia

Di bawah sinar mentari yang cerah, kami diajak berkeliling oleh Bapak Maryanto untuk mengetahui sejarah didirikannya bangunan ini. Pembangunan pabrik ini dulunya merupakan bentuk kerjasama antara Indonesia dengan Bulgaria pada tahun 1964-1965. Dengan nama awal ‘Sereh Rakyat’, pabrik penyulingan atsiri ini memang dibangun untuk kemakmuran rakyat secara merata.

Proses pembangunannya terhenti kala G30S/PKI pecah di Indonesia. Beberapa tenaga ahli dari Bulgaria yang menggarap Atsiri secara tiba-tiba meninggalkan proyek demi keselamatan mereka karena saat itu Bulgaria dianggap sebagai negara komunis.

Penampakan Laboratorium di Museum Atsiri (Dok.Pri)

Penampakan Laboratorium di Museum Atsiri (Dok.Pri)

Hingga puluhan tahun lamanya, bangunan ini seakan mati suri. Tak ada aktivitas terdengar, tak ada pula manfaat yang dirasakan atas keberadaannya. Pantas saja saat kemarin berkunjung ke sana, di ruang laboratorium, kami hanya melihat beberapa botol penelitian, zat kimia, destilasi serta gelas erlenmeyer yang sudah diselimuti debu dan seakan menjadi saksi bisu tentang proses penyulingan minyak atsiri di masa lalu.

 

Lupakan masa lalu. Kini Museum Atsiri bangkit kembali dan direvitalisasi dengan banyak tujuan besar, diantaranya adalah edukasi manfaat Atsiri kepada masyarakat. Akan ada apa saja di dalamnya? Kita tunggu saja kejutan berikutnya. Hehe...

2. Wahana Edukasi Anak Mengenal Kekayaan Alam Indonesia

Kini giliran mbak Sri Rejeki memberikan penjelasan lanjut mengenai revitalisasi Museum Atsiri. Bagian luar dari bangunan ini sangatlah laus, dengan jalan yang sudah diplot-plot untuk disinggahi berbagai tanaman dan tentunya dengan kondisi jalan yang sudah diperhalus. “Tempat ini sebenarnya mau dijadikan apa sih mbak?”, tanya teman-teman sembari melangkahkan kaki di area ini.

Tak tanggung-tanggung, wanita ramah berambut ikal ini memberikan banyak informasi menarik. Rupanya pabrik bersejarah ini akan disulap menjadi sebuah wahana edukasi masyarakat tentang tanaman atsiri dan manfaatnya. Lalu, sebenarnya minyak atsiri itu apa sih?

Salah Satu Taman Atsiri yang dikembangkan : Kencur (Dok.Pri)

Salah Satu Taman Atsiri yang dikembangkan : Kencur (Dok.Pri)

Dijelaskan bahwa minyak atsiri adalah senyawa organik yang berasal dari tumbuhan yang memiliki berbagai ciri seperti berasa getir, sifatnya mudah menguap serta memiliki aroma sesuai dengan tanaman aslinya. Tanaman kayu putih, lavender, cengkeh dan akar wangi adalah beberapa contoh tanaman atsiri yang pernah disuling di pabrik ini di masa lalu.

 

"Tempat ini akan disulap menjadi wahana edukasi bagi anak-anak tentang tanaman Atsiri. Besok kan disini pada tahap awal akan ditanam sekitar 40 tanaman atsiri dan masing-masing akan terpasang identitasnya. Harapannya, anak-anak jadi paham sedari dini bahwa Indonesia kaya akan tanaman atsiri yang memiliki manfaat luar biasa bagi kehidupan manusia," Papar mbak Sri Rejeki.

Untuk areanya sendiri memang didesain sangat menarik, strategis dan kaya akan informasi yang dibutuhkan anak-anak. Tak kalah menarik, di salah satu gedung juga akan dibangun Kids Lab yang memfasilitasi anak-anak untuk belajar tentang beragam tanaman atsiri serta proses pengolahannya secara sederhana. Wah, kelihatannya menarik, kita tunggu realisasinya ya :) 

3. Wahana Peningkatan Kesehatan Masyarakat

Revitalisasi Museum Atsiri ini ternyata juga berkontribusi bagi masa depan kesehatan masyarakat dunia. Minyak Atsiri yang sering disebut dengan minyak esensial atau sari dari bagian tanaman ini ternyata dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan masyarakat, baik untuk konsumsi, antiseptik, aroma terapi, bahan pewangi, industri parfum dan kosmetik bahkan sering dimanfaatkan pula untuk pengembangan di bidang kesehatan dan farmasi (obat-obatan). 

Dari zaman dulu, minyak atsiri ini sudah menjadi salah satu komoditas ekspor di Indonesia sehingga tak heran jika negara kita dijuluki kaya rempah-rempah dan hebatnya sangat diminati oleh banyak negara-negara di dunia yang ingin meningkatkan kualitas hidup dengan memanfaatkan atsiri. Murah meriah dan mujarab, itulah keistimewaannya.

“Pada saat Bu Yulia berkunjung ke India untuk mengadakan penelitian tentang kebutuhan atsiri di negara tersebut, ada sebuah hal mengejutkan. Tak hanya sebagai aroma terapi, ternyata minyak atsiri sudah dikembangkan sebagai terapi penyakit kanker,” ucap mbak Sri Rejeki dengan wajah girang. Kami pun lempar wajah melongo mendengar berita ini.

 

Tanaman Sereh di Museum Atsiri, sebagai obat anti kanker (Dok.Pri)

Tanaman Sereh di Museum Atsiri, sebagai obat anti kanker (Dok.Pri)

Ya, sebuah inovasi membahagiakan yang membuat kami makin percaya bahwa atsiri adalah harta karunnya negara Indonesia. Di negara-negara lainpun sedang dikembangkan berbagai penelitian tentang atsiri dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, tentunya atas kerjasama para tim pengembang Museum Atsiri Tawangmangu yang tak kenal lelah berinovasi.  

 

4. Wahana Pengembangan SDM dan Pengolahan Atsiri Menjadi Produk Kebutuhan Masyarakat

Tak hanya konsentrasi pada pengembangan tanaman atsiri di area museum, tim Rumah Atsiri juga akan berbagi ilmu kepada masyarakat agar mereka lebih mengenal dan mengembangkan tanaman atsiri yang tumbuh di sekitar lingkungan mereka. Salah satu program menariknya adalah mengadakan sebuah pelatihan ataupun workshop tentang berbagai cara memanfaatkan atsiri untuk membuat lilin, parfum, sabun, obat nyamuk dan berbagai kebutuhan masyarakat yang lainnya yang akan dibimbing langsung oleh para tenaga ahli.

Tentu saja program ini sangat bermanfaat. Selain dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat yang tertarik dengan atsiri, ini tentu juga bisa dijadikan lahan rezeki bagi mereka yang akan membuka bisnis dengan bahan tanaman atsiri.

Tak hanya itu, pengunjung museum atsiri yang ingin menikmati hasil pengolahan ekstrak atsiri secara langsung, akan difasilitasi merchandise shop yang menjual aneka produk hasil olahan atsiri. Selain parfum, lilin, aroma terapi dan berbagai wangi-wangian untuk kesehatan, Museum Atsiri juga akan mengembangkan berbagai aksesoris kece yang bermanfaat untuk kesehatan, misalnya gelang dan kalung anti nyamuk berbahan dasar serai yang wujudnya keren dan belum pernah diproduksi.

“Wah, mau banget mbak.. keren itu, “ teriak girang kami menanggapi pernyataan mbak Sri Rejeki tersebut.  

5. Wahana Wisata yang Ramah Masyarakat dan Ramah Lingkungan

Bayangan liar saya menajam usai berkeliling area museum yang penuh dengan bibit-bibit atsiri ini. Satu hingga dua tahun mendatang, seluruh area yang sudah terbagi-bagi untuk ditanami atsiri ini akan meninggi, berwarna dan mengeluarkan aroma-aroma kenyamanan yang membuat seluruh orang takjub, mulai dari balita hingga orang tua.  

Saya pikir ini memang baru pertama kalinya di Indonesia. Edukasi atsiri di sebuah museum yang memfasilitasi segalanya, mulai dari pengenalan tanaman atsiri, proses pengolahannya hingga pemanfaatan produk jadinya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Tak hanya itu, bagi yang sudah kelaparan usai berkeliling museum, jangan khawatir, di sini juga disediakan restoran dan kafe yang akan memanjakan perut Anda. Berbagai wahana outbond otak juga akan semakin menambah kejutan untuk seluruh anggota keluarga Anda.

Rute Jalan di Taman Atsiri (Dok.Pri)

Rute Jalan di Taman Atsiri (Dok.Pri)

Apalagi di area ini dibangun jalan yang ramah difabel, tentu semua orang bisa menikmatinya. Pun baby yang masih hobi nangkring di stroller ataupun lansia yang sudah nyaman duduk di atas kursi roda bisa berkeliling di atas tanah atsiri ini dengan sangat nyaman.

Sungguh jelas anugerah Tuhan melalui Museum Atsiri ini. Menikmati alam dengan wewangiannya, siapa yang tak betah coba?

Proses pengolahan tanah dan penanaman di area taman Museum Atsiri (Dok. Rumah Atsiri)

Sebuah bangunan megah berwarna putih seluas 2 hektar ini gagah berdiri di lereng Lawu, Tawangmangu serta bercurah hujan 1.800 – 2.500 mm/th. Melanjutkan cita-cita Soekarno menjadi Mercusuar Dunia di bidang Minyak Atsiri untuk menyejahterakan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia, visi didirikannya bangunan ini. Tiada terlihat, selain sisa-sisa produksi puluhan tahun lalu yang meninggalkan berbagai kisah haru. Sumur-sumur produksi, area bekas penyulingan ataupun laboratorium kuno menjadi saksi betapa besar hiruk-pikuk produksi pabrik ini di masa lalu. Bisik-bisik masyarakat mulai terdengar tentang revitalisasi museum ini. Benarkah bangunan yang mati suri ini akan dibangkitkan kembali sebagai hadiah untuk Indonesia?

Museum Atsiri? Yang ada di awang-awang sih pada awalnya seperti sebuah museum yang penuh dengan peninggalan-peninggalan kuno. Bermodal semangat untuk menelusuri tempat-tempat baru, beberapa waktu lalu saya bersama rombongan Kjog (Kompasianer Jogja) mencoba meluangkan waktu untuk mengobati rasa penasaran tentang sebuah museum yang bagi kami masih terasa sangat asing ini.

Kereta Api pagi itu tampak membawa kami bertamasya dengan sangat nyaman, ditambah cakrawala biru yang menambah hati kami makin cerah. Sesampainya di stasiun Solo, kami sejenak mampir ke rumah rempah Solo, sebuah bangunan artistik yang memiliki banyak pajangan karya seni dari bahan kayu, akar dan sumber alam lainnya. Tak lama setelahnya, kami melanjutkan perjalanan menuju Museum Atsiri atau yang populer dengan sebutan Rumah Atsiri.

Sampailah kami di sebuah rumah singgah, tempat kami bertemu dengan Ibu Julia Ekajati (Pemilik Museum Atsiri) bersama tim yang sejak awal terlihat sangat ramah menyambut kedatangan kami. Ada banyak cerita sejarah yang saya dapatkan hingga memahami betapa berharganya museum ini bagi Indonesia. Sambil manggut-manggut kagum, Kjog mulai menanggapi bahkan beberapa lempar pertanyaan untuk menjawab rasa penasaran mereka.

Hari makin siang dan perut mulai bergejolak. Sebelum jalan-jalan ke Museum Atsiri, Bu Julia menjamu kami untuk menikmati hidangan ndeso di resto miliknya, Griya Tawang, tentunya di area yang tak jauh dari Museum Atsiri. Sebuah restoran bernuansa alam yang dipercantik dengan gazebo-gazebo unik, berbagai sajian ala ndeso yang rasanya alamakkk... bikin kangen suasana pedesaan. Aroma udara yang masih segar sangat mendukung kami untuk menikmati sajian istimewa ini di tepi sungai alami yang gemercik airnya mendatangkan rasa tenang. Saya hanya bisa berkata, sempurna.

 

Area Pengembangan Taman Atsiri (Doc. Rumah Atsiri)
Area Pengembangan Taman Atsiri (Doc. Rumah Atsiri)

 

Usai menikmati makan siang, kami kembali ke rumah singgah hingga akhirnya bersiap untuk berpetualang ke Museum Atsiri. Saat menyusuri pertama kali, kami melihat banyak material dan beragam alat bangunan yang masih berserakan, tanda bahwa proses renovasi masih berjalan.

Jejak-jejak langkah kami menyusuri beberapa area yang pernah menjadi saksi dari status bangunan ini yang telah pindah tangan beberapa kali. Ditemani oleh para guide ramah tim Rumah Atsiri, yaitu Mbak Sri Rejeki, Bapak Markhaban dan Bapak Maryanto, kami mendapatkan  berbagai informasi menarik.

Pada akhirnya, saya paham betapa Museum Atsiri ini ibarat harta karun yang jika dikembangkan secara serius akan dapat memberikan kebanggaan luar biasa bagi Indonesia. Mengapa begitu? Karena proses revitalisasi ini butuh kerja keras banyak pihak untuk membentuk sebuah wahana edukasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Apa saja sih kelebihan Museum Atsiri? Berikut beberapa hal yang dapat saya rangkum :

1. Wahana Sejarah yang Berkontribusi bagi Indonesia

Di bawah sinar mentari yang cerah, kami diajak berkeliling oleh Bapak Maryanto untuk mengetahui sejarah didirikannya bangunan ini. Pembangunan pabrik ini dulunya merupakan bentuk kerjasama antara Indonesia dengan Bulgaria pada tahun 1964-1965. Dengan nama awal ‘Sereh Rakyat’, pabrik penyulingan atsiri ini memang dibangun untuk kemakmuran rakyat secara merata.

Proses pembangunannya terhenti kala G30S/PKI pecah di Indonesia. Beberapa tenaga ahli dari Bulgaria yang menggarap Atsiri secara tiba-tiba meninggalkan proyek demi keselamatan mereka karena saat itu Bulgaria dianggap sebagai negara komunis.

Penampakan Laboratorium di Museum Atsiri (Dok.Pri)
Penampakan Laboratorium di Museum Atsiri (Dok.Pri)

Hingga puluhan tahun lamanya, bangunan ini seakan mati suri. Tak ada aktivitas terdengar, tak ada pula manfaat yang dirasakan atas keberadaannya. Pantas saja saat kemarin berkunjung ke sana, di ruang laboratorium, kami hanya melihat beberapa botol penelitian, zat kimia, destilasi serta gelas erlenmeyer yang sudah diselimuti debu dan seakan menjadi saksi bisu tentang proses penyulingan minyak atsiri di masa lalu.

 

Lupakan masa lalu. Kini Museum Atsiri bangkit kembali dan direvitalisasi dengan banyak tujuan besar, diantaranya adalah edukasi manfaat Atsiri kepada masyarakat. Akan ada apa saja di dalamnya? Kita tunggu saja kejutan berikutnya. Hehe...

2. Wahana Edukasi Anak Mengenal Kekayaan Alam Indonesia

Kini giliran mbak Sri Rejeki memberikan penjelasan lanjut mengenai revitalisasi Museum Atsiri. Bagian luar dari bangunan ini sangatlah laus, dengan jalan yang sudah diplot-plot untuk disinggahi berbagai tanaman dan tentunya dengan kondisi jalan yang sudah diperhalus. “Tempat ini sebenarnya mau dijadikan apa sih mbak?”, tanya teman-teman sembari melangkahkan kaki di area ini.

Tak tanggung-tanggung, wanita ramah berambut ikal ini memberikan banyak informasi menarik. Rupanya pabrik bersejarah ini akan disulap menjadi sebuah wahana edukasi masyarakat tentang tanaman atsiri dan manfaatnya. Lalu, sebenarnya minyak atsiri itu apa sih?

Salah Satu Taman Atsiri yang dikembangkan : Kencur (Dok.Pri)
Salah Satu Taman Atsiri yang dikembangkan : Kencur (Dok.Pri)

Dijelaskan bahwa minyak atsiri adalah senyawa organik yang berasal dari tumbuhan yang memiliki berbagai ciri seperti berasa getir, sifatnya mudah menguap serta memiliki aroma sesuai dengan tanaman aslinya. Tanaman kayu putih, lavender, cengkeh dan akar wangi adalah beberapa contoh tanaman atsiri yang pernah disuling di pabrik ini di masa lalu.

 

"Tempat ini akan disulap menjadi wahana edukasi bagi anak-anak tentang tanaman Atsiri. Besok kan disini pada tahap awal akan ditanam sekitar 40 tanaman atsiri dan masing-masing akan terpasang identitasnya. Harapannya, anak-anak jadi paham sedari dini bahwa Indonesia kaya akan tanaman atsiri yang memiliki manfaat luar biasa bagi kehidupan manusia," Papar mbak Sri Rejeki.

Untuk areanya sendiri memang didesain sangat menarik, strategis dan kaya akan informasi yang dibutuhkan anak-anak. Tak kalah menarik, di salah satu gedung juga akan dibangun Kids Lab yang memfasilitasi anak-anak untuk belajar tentang beragam tanaman atsiri serta proses pengolahannya secara sederhana. Wah, kelihatannya menarik, kita tunggu realisasinya ya :) 

3. Wahana Peningkatan Kesehatan Masyarakat

Revitalisasi Museum Atsiri ini ternyata juga berkontribusi bagi masa depan kesehatan masyarakat dunia. Minyak Atsiri yang sering disebut dengan minyak esensial atau sari dari bagian tanaman ini ternyata dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan masyarakat, baik untuk konsumsi, antiseptik, aroma terapi, bahan pewangi, industri parfum dan kosmetik bahkan sering dimanfaatkan pula untuk pengembangan di bidang kesehatan dan farmasi (obat-obatan). 

Dari zaman dulu, minyak atsiri ini sudah menjadi salah satu komoditas ekspor di Indonesia sehingga tak heran jika negara kita dijuluki kaya rempah-rempah dan hebatnya sangat diminati oleh banyak negara-negara di dunia yang ingin meningkatkan kualitas hidup dengan memanfaatkan atsiri. Murah meriah dan mujarab, itulah keistimewaannya.

“Pada saat Bu Yulia berkunjung ke India untuk mengadakan penelitian tentang kebutuhan atsiri di negara tersebut, ada sebuah hal mengejutkan. Tak hanya sebagai aroma terapi, ternyata minyak atsiri sudah dikembangkan sebagai terapi penyakit kanker,” ucap mbak Sri Rejeki dengan wajah girang. Kami pun lempar wajah melongo mendengar berita ini.

Tanaman Sereh di Museum Atsiri, sebagai obat anti kanker (Dok.Pri)
Tanaman Sereh di Museum Atsiri, sebagai obat anti kanker (Dok.Pri)

Ya, sebuah inovasi membahagiakan yang membuat kami makin percaya bahwa atsiri adalah harta karunnya negara Indonesia. Di negara-negara lainpun sedang dikembangkan berbagai penelitian tentang atsiri dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, tentunya atas kerjasama para tim pengembang Museum Atsiri Tawangmangu yang tak kenal lelah berinovasi. 

 

4. Wahana Pengembangan SDM dan Pengolahan Atsiri Menjadi Produk Kebutuhan Masyarakat

Tak hanya konsentrasi pada pengembangan tanaman atsiri di area museum, tim Rumah Atsiri juga akan berbagi ilmu kepada masyarakat agar mereka lebih mengenal dan mengembangkan tanaman atsiri yang tumbuh di sekitar lingkungan mereka. Salah satu program menariknya adalah mengadakan sebuah pelatihan ataupun workshop tentang berbagai cara memanfaatkan atsiri untuk membuat lilin, parfum, sabun, obat nyamuk dan berbagai kebutuhan masyarakat yang lainnya yang akan dibimbing langsung oleh para tenaga ahli.

Tentu saja program ini sangat bermanfaat. Selain dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat yang tertarik dengan atsiri, ini tentu juga bisa dijadikan lahan rezeki bagi mereka yang akan membuka bisnis dengan bahan tanaman atsiri.

Tak hanya itu, pengunjung museum atsiri yang ingin menikmati hasil pengolahan ekstrak atsiri secara langsung, akan difasilitasi merchandise shop yang menjual aneka produk hasil olahan atsiri. Selain parfum, lilin, aroma terapi dan berbagai wangi-wangian untuk kesehatan, Museum Atsiri juga akan mengembangkan berbagai aksesoris kece yang bermanfaat untuk kesehatan, misalnya gelang dan kalung anti nyamuk berbahan dasar serai yang wujudnya keren dan belum pernah diproduksi.

“Wah, mau banget mbak.. keren itu, “ teriak girang kami menanggapi pernyataan mbak Sri Rejeki tersebut.  

5. Wahana Wisata yang Ramah Masyarakat dan Ramah Lingkungan

Bayangan liar saya menajam usai berkeliling area museum yang penuh dengan bibit-bibit atsiri ini. Satu hingga dua tahun mendatang, seluruh area yang sudah terbagi-bagi untuk ditanami atsiri ini akan meninggi, berwarna dan mengeluarkan aroma-aroma kenyamanan yang membuat seluruh orang takjub, mulai dari balita hingga orang tua.  

Saya pikir ini memang baru pertama kalinya di Indonesia. Edukasi atsiri di sebuah museum yang memfasilitasi segalanya, mulai dari pengenalan tanaman atsiri, proses pengolahannya hingga pemanfaatan produk jadinya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Tak hanya itu, bagi yang sudah kelaparan usai berkeliling museum, jangan khawatir, di sini juga disediakan restoran dan kafe yang akan memanjakan perut Anda. Berbagai wahana outbond otak juga akan semakin menambah kejutan untuk seluruh anggota keluarga Anda.

Rute Jalan di Taman Atsiri (Dok.Pri)
Rute Jalan di Taman Atsiri (Dok.Pri)

 

Apalagi di area ini dibangun jalan yang ramah difabel, tentu semua orang bisa menikmatinya. Pun baby yang masih hobi nangkring di stroller ataupun lansia yang sudah nyaman duduk di atas kursi roda bisa berkeliling di atas tanah atsiri ini dengan sangat nyaman.

Sungguh jelas anugerah Tuhan melalui Museum Atsiri ini. Menikmati alam dengan wewangiannya, siapa yang tak betah coba?

 

Proses pengolahan tanah dan penanaman di area taman Museum Atsiri (Dok. Rumah Atsiri)
Proses pengolahan tanah dan penanaman di area taman Museum Atsiri (Dok. Rumah Atsiri)

 

Berbagai Manfaat Minyak Atsiri untuk Kebutuhan Masyarakat

Bagaimana sekarang? Anda sudah lebih mengenal Museum Atsiri? Mudah-mudahan tempat ini menjadi referensi tempat wisata selanjutnya untuk keluarga Anda tercinta ya. Hehehe.. Sebagai informasi, dari tanaman atsiri yang bisa dijadikan ekstrak diantaranya adalah pada bagian bunga, daun, buah, biji, batang, akar dan rimpangnya. Nah, untuk sekedar meyakinkan Anda tentang keajaiban berbagai tanaman atsiri yang dikembangkan oleh Museum Atsiri ini, berikut adalah informasi mengenai manfaat sebagian kecil tanaman Atsiri :  

1. Serai : mengurangi kram saat menstruasi, pencegah kanker, memutihkan gigi, menyembuhkan perut kembung.

2. Kayu Putih : sebagai antiseptik dan antibakteri, relaksasi tubuh, mengobati flu dan pusing serta meningkatkan sirkulasi darah.

3. Lavender : terhindar dari gigitan nyamuk, menghilangkan depresi dan stres, mengatasi insomnia dan kerontokan rambut.

4. Akar wangi : mengobati bengkak, menurunkan demam, melancarkan keringat, mengobati sakit gigi.

5. Nilam : mencegah bau badan, mengatasi penyakit kulit, mencegah impotensi, mengatasi diare dan batuk.

7. Mawar : menyehatkan rambut, menghilangkan jerawat, menurunkan tekanan darah, sebagai relaksasi.

8. Melati : mencegah stroke dan kanker, membakar sel lemak, detoksifikasi tubuh, mengobati sesak nafas.

9. Cengkeh : menghangatkan tubuh, melancarkan sistem pencernaan, mengobati sinusitis, menyehakan jantung.

10. Pala : Menambah nafsu makan, mencegah muntah, mengobati asam lambung, mencegah leukimia.

***

Pada saat dulu kami berkunjung ke Museum Atsiri, beberapa tanaman masih terlihat kecil dan belum banyak warna atau aroma yang tercium. Namun tiga bulan usai kunjungan kami, ada banyak progres terlihat dari revitalisasi museum ini :

Progres Pengembangan Tanaman Lavender di Museum Atsiri

Progres Pengembangan Tanaman Lavender di Museum Atsiri

Progres Revitalisasi Bangunan Museum Atsiri

Progres Revitalisasi Bangunan Museum Atsiri

Itulah oleh-oleh kami usai berpetualang ke Museum Atsiri yang penuh dengan nilai edukasi dan tentunya akan menjadi tujuan wisata baru di area Tawangmangu, Solo. Sebuah alur sejarah yang tak boleh terlupa begitu saja yang membuat negara kita populer sebagai penghasil minyak atsiri dengan kualitas bagus.

Sekalipun dimiliki oleh individu, Museum Atsiri patut mendapat apresiasi dari pemerintah karena manfaatnya yang luar biasa, yaitu berperan serta dalam memenuhi hajat hidup orang banyak.  

Para Tim Ahli di Bidang Atsiri usai acara acara Focus Group Discussion di Rumah Atsiri (Doc. Ibu Julia Ekajati)

Para Tim Ahli di Bidang Atsiri usai acara acara Focus Group Discussion di Rumah Atsiri (Doc. Ibu Julia Ekajati)

Untuk seluruh tim pengembang Museum Atsiri di Tawangmangu, semoga selalu bersemangat dan tak kenal lelah dalam menggali kekayaan atsiri Indonesia yang begitu berlimpah dan menyulapnya menjadi berbagai produk yang bermanfaat bagi hidup manusia.

Semoga saat berkesempatan berkunjung ke sana lagi, saya sudah bisa melihat banyak pengunjung berlalu lalang diantara rimbunnya tanaman-tanaman atsiri yang saling berlomba untuk menjadi yang tertinggi dan mengasilkan aroma alam, aroma khas atsiri.

Terimakasih Bu Julia Ekajati, Mbak Sri Rejeki, Bapak Markhaban, Bapak Maryanto dan seluruh tim pengembang Museum Atsiri Tawangmangu atas pengalaman yang luar biasa ini. Semoga Museum Atsiri makin menebar manfaat bagi sesama :)  

Riana Dewie

Sumber referensi :
Web Rumah Atsiri
FB Rumah Atsiri
Wawancara langsung dengan tim pengembang Museum Atsiri

https://www.kompasiana.com/rianadewie/inilah-5-kelebihan-museum-atsiri-wahana-edukasi-atsiri-pertama-di-indonesia_57c58e1de1afbd974bcf7a35